Journalist Club Sisma

Berdiri, Berlari, Mengejar Informasi

Penerjang Gelombang dari Sepeken

NelayanPewawancara: selamat pagi pak, kami dari unit kegiatan mahasiswa visi universitas pendidikan ganesha, ingin sedikit berbincang-bincang dengan bapak selaku nahkoda kapal”Jawa Indah”. Untuk lebih akrabnya saya Ayu Kusuma, terlebih dahulu mengetahui identitas pribadi bapak seperti nama, tempat tgl lahir, alamat.

Narasumber : nama saya Ruslan, tempat tgl lahir Sumenep 12 Oktober 1965 dan alamat saya Sepeken Jawa Timur.

Pewawancar: jenis ikan apa sajakah yang bapak bawa dari sepeken Jawa timur dan berapa banyak ikan yang bapak bawa?

Narasumber: jenis ikan yang saya bawa bermacam-macam mulai dari ikan lokal dan ikan ekspor, jumlah ikan yang saya berkisar 8 sampai 10 ton.

Pewawancara: berapa lama waktu yang harus bapak tempuh dari Sepeken Jawa Timur menuju Singaraja   tepatnya di tempat pendaratan ikan ini?

Narasumber: waktu yang saya perlukan kira-kira 10 jam, tergantung dari keadaan cuaca dan gelombang laut saat berlayar.

Pewawancara:adakah aturan-aturan khusus yang harus bapak taati ketika membawa ikan ketempat pangkalan pendaratan ikan ini?

Narasumber: ada beberapa aturan yang harus di taati yaitu membawa ikan yang memang diperbolehkan dan tidak membawa ikan yang dilarang sepaerti ikan Sumay, harus membawa perlengkapan berupa surat-surat kapal dan ijin berlayar. Baca lebih lanjut

Iklan

Desember 6, 2011 Posted by | Wawancara | , , | Tinggalkan komentar

Mimpi Besar Kadek Sudiarta

“Pengabdian dan memperjuangkan hak nelayan agar dapat sejahtera jauh lebih berharga dari sekedar harta”  tutur Kadek Sudiarta.

Pangkalan Pendaratan Ikan Sangsit, Dusun Pabean merupakan tempat pelelangan ikan yang ada dibuleleng. Tempat ini menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat yang tinggal dipesisir pantai. Salah satunya bapak Kadek Sudiarta yang kini menjabat sebagai ketua kelompok nelayan Bhineka Samudra. Lulusan SMA Trisila Surapati ini mengaku sudah hampir 14 tahun ia dan rekannya mengarungi lautan untuk mencari nafkah.

Setelah menikah pada tahun 1995, ia diberkahi  2 orang anak, anak pertama, Luh Putu Sudiani yang masih duduk di bangku SMP kelas 3, kemudian yang kedua, Kadek Ayu Astari kini masih SMP kelas 1. Keluarga yang sederhana dan penuh rasa cinta, keduanya tumbuh dengan bangga, walaupun mereka terbatas oleh biaya, tetapi mereka tetap bersekolah untuk meraih cita-citanya. Baca lebih lanjut

Desember 5, 2011 Posted by | Profil | , , , | Tinggalkan komentar

Wayan Dharma, Laut Hidupku

NelayanTatkala sang mentari kembali pulang ke peraduannya bumi pertiwipun gelap gulita, hanya kerlip bintang yang bertaburan di atas birunya langit. Semua makhluk terlelap dalam mimpi indahnya, namun sesosok pria paruh baya masih tetap bertarung di tengah lautan lepas demi sesuap nasi di esok hari. Tak ada teman tak ada sanak keluarga hanya dinginnya malam yang masih mau menemaninya, di bawah sinar rembulan pak tua itupun menggelar jaringnya berharap para penghuni laut terperangkap di dalammnya.

Pak Wayan Dharma (52) tak pernah menyangka kalau aktifitas itu bisa dijalaninya sampai sekarang pasalnya pada bulan Pebruari lalu di tengah lautan lepas ia dan kawan-kawan seperjuangannya dalam kelompok nelayan Beji Asri terjebak dalam gelombang besar. Hujan lebat yang disertai angin membuat lampu perahunya mati, tidak ada yang dapat mereka lakukan dalam kegelapan kecuali menunggu pagi hari. “Saat itu saya sangat takut sebab beberapa hari lalunya ada nelayan di daerah kubutambahan yang hilang ketika memancing akibat gelombang besar juga” ungkapnya. Namun alangkah senangnya suami dari ibu Nyoman Widiasih (45) itu ketika fajar mulai menyingsing, dan iapun bisa kembali menepi dengan selamat.

Beliau mengawali karirnya sebagai nelayan sejak kelas empat SD, ia tidak sempat menamatkan sekolahnya karena masalah biaya, hingga ia harus turun kedunia kerja di usia sedini itu dan memilih profesi nelayan. Bapak itu mengaku sejak kecil ia memang suka memancing, karena sewaktu ia kecil penghasilan nelayan cukup menggiurkan. “Memang dulu penghasilan nelayan itu lumayan, sampai-sampai waktu masih muda saya bisa bikin rumah dari hasil melaut, tapi sayang dik sejak tahun 2000 penghasilan kami merosot tajam” ceritanya. Setelah kami telisik lebih jauh ternyata alasan utama kemrosotan penghasilan nelayan itu adalah perbandingan jumlah nelayan dan hasil laut yang tidak sebanding, semakin hari jumlah nelayan semakin banyak akan tetapi hasil laut malah berbanding terbalik menjadi menurun. Baca lebih lanjut

Desember 5, 2011 Posted by | Berita Kisah | , , , , | Tinggalkan komentar