Journalist Club Sisma

Berdiri, Berlari, Mengejar Informasi

Sisi Muram Kehidupan Nelayan


NelayanNenek moyangku seorang pelaut,gemar mengarungi luas samudera ,menerjang ombak tiada takut,menempuh badai sudah biasa. Lagu itu seolah menjadi spirit bagi nelayan pangkalan pendaratan ikan Desa Sangsit. Kegigihan para nelayan disana yang berjuang untuk anak dan istri mereka, menjadikan mereka sosok pribadi yang tangguh. Semangat Kegigihan yang mereka kobarkan rasanya tak sebanding dengan kehidupan yang mereka jalani sampai saat ini yang masih tetap berada dalam situasi dan kondisi yang sangat memprihatinkan. Kalau pun ada diantara mereka yang bisa hidup mapan dan berkecukupan jumlahnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan nelayan yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan tersebut masih banyak yang tinggal di rumah yang sangat sederhana bahkan jauh dari layak. Mayoritas dari mereka masih tinggal di rumah-rumah dengan material dari kayu atau papan, beratap nipah dan sebagian kecil seng serta berlantai pasir. Kondisi rumah mereka yang tertancap di pasir pantai terlihat sudah hampir  reot dan hampir tumbang ditelan waktu yang terus berputar.

Kondisi nelayan semakin rentan dengan kemiskinan karena hasil laut semakin berkurang, daya dukung sumber daya ikan terus menurun, jumlah para nelayan semakin meningkat , dan juga perubahan iklim dan gangguan cuaca yang kadang tak menentu.

Kemiskinan itu tecermin dari tingkat pendapatan, keterjangkauan pendidikan anak, kesehatan, dan ketahanan pangan keluarga nelayan. Saat menemui salah seorang nelayan disana, hal yang ia ungkapkan adalah mengucapkan syukur karena sudah bisa menamatkan ketiga anaknya walaupun hanya sampai ke tingkat SMA, tuturnya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. Jika dilihat dari pendapatannya tentu sangatlah tidak cukup, hal yang utama ia lakukan adalah mengutang ke sejumlah orang. Dibalik kekuatan seorang laki-laki tentu ada perempuan dibelakangnya yang menyokong, begitupun yang dialami nelayan disana, para istri mereka juga berjuang demi keluarga, yakni dengan menjual hasil laut tangkapan suami mereka di pasar, namun niat untuk mendapat keuntungan lebih tampaknya harus ditahan dalam-dalam melihat menjamurnya penjual ikan di daerah setempat.

Para, nelayan umumnya tidak memiliki usaha sampingan selain melaut. Untuk itu, diperlukan  strategi dalam upaya pemberdayaan anggota keluarga nelayan. Hal ini untuk meningkatkan kontribusi pendapatan keluarga. Pemberdayaan nelayan harus dapat meningkatkan nilai tambah penghasilan. Di antaranya, usaha pengolahan hasil tangkapan ikan dengan melibatkan anggota keluarga.

Yang mereka butuhkan saat ini adalah pendampingan, pengarahan dan bantuan dana untuk modal usaha dan modal untuk pengembangan. Selain itu juga mereka perlu mendapatkan pelatihan-pelatihan bidang keterampilan lain. Dengan demikian semoga kehidupan nelayan bisa jauh berangsur membaik.

Desember 5, 2011 - Posted by | Opini | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: