Journalist Club Sisma

Berdiri, Berlari, Mengejar Informasi

Laut dan Cintaku


cerpenSemburat jingga menghiasi langit, burung-burung pulang ke sarang menemani sang surya pulang ke peraduan. Berdiri tegak memandang langit dengan hati yang galau,sesaat diarahkannya mata indahnya dibalik tirai-tirai malam yang kan segera menjemput.” Pergilah ucapnya lirih, aku dan deburan ombak ini kan senantiasa menunggu kau kembali pada ku”. Sesaat dilihatnya wanita yang sangat dicintainya itu menghapus bulir-bulir hangat di pipi. “ jika nanti, aku pergi tetaplah percaya pada ku bahwa aku kan kembali pada mu, dan tetap untuk mu, percayalah walau aku jauh, tapi kenangan mu dan pantai ini kan tetap bersama ku”. Mereka berdua bercucuran air mata, mengenang indah cinta yang pernah dirasakan. Bintang seraca enggan memancarkan sinarnya, angin malam menyusup jauh ke dalam tulang. “Vino, ku ikhlaskan kepergian mu untuk desa kita tercinta. Aku yakin kepergian mu akan membawa perubahan pada desa kita ini terlebih lagi bagi laut yang senantiasa menemani hari-hari ku bersama mu. Jika aku harus memilih merelakan mu pergi atau merelakan laut ku, kan ku korban kan perasaan ku ini dan kan ku katakana pergilah” ucap Siska tegas. “aku tau, betapa laut ini ingin kau jaga begitu juga dengan aku, laut yang membesarkan kita dan laut pula yang mempertemukan kita, tapi satu pinta ku yakinkan diri mu bahwa ku kan kembali bersama mu”. Mereka pun berpelukan tanda kan perpisahan, seakan merasakan kesedihan dua insane yang akan berpisah ini bumi pun ikut menangis.

                Titik-titik air masih menggelayutin dedaunan tanda hujan semalam, akan tetapi sang surya dengan riangnya tersenyum memberikan kehangatan pada jiwa.” Ini bekal mu nak, ibu merestui mu dan doa ibu selalu bersama mu, sembari mencium kening anaknya. Percayalah bu, aku kan kembali untuk kalian semua. Seperti perpisahan terakhir semua warga menghantarkan Vino ke kapal yang akan mengantarnya berlayar menjadi pelaut sejati. Dari kejauhan tampak wanita muda menyeka air mata “ aku yakin kau kan kembali sayang”. Hari terus berganti tanpa terasa enam bulan telah berlalu, akan tetapi tak sepucuk surat pun datang untuk mengusir kegelisahan Siska. Matahari begitu terik serasa membakar tubuh mungil yang sedang menjemur ikan, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat. Semua warga berlarian menuju arah ledakan akan tetapi apa yang mereka lihat? Ribuan ikan terkapar tak berdaya oleh racun portas. “ siapa yang melakukan ini”? tanya kepala desa yang tiba-tiba datang dengan sumbringah. Semua warga yang ditanya mengatakan tidak tahu menahu soal itu. Dengan wajah sedih mereka membersihkan bangkai-bangkai ikan yang mengotori laut. Setelah selesai membersihkan sisa-sisa ikan warga pun kembali ke rumah masing-masing. Siska yang sedari tadi terdiam tampak sedang memikirkan sesuatu, yah,, memikirkan bagaimana cara menghentikan pengeboman ikan yang sangat merugikan manusia dan merusak ekosistem laut. “ Siska, ayo pulang, hari akan hujan bantu ibu mengangkat ikan-ikan kita”. Seperti baru tersadar Siska pun berlari menuju sumber suara yang memanggilnya. Dengan sigap ia mengangkat keranjang yang berisi ikan yang sudah kering, dan memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan. “Siska, kemari nak, bantu ayah membawa jarring-jaring ini ke perahu”. “ya ayah jawabnya singkat”. “ ayah, apa hari ini ayah akan pergi melaut? Sekarang kan cuacanya buruk. Tidak nak, ayah dan beberapa orang lainnya ingin mencari tau siapa sebenarnya yang mencari ikan dengan cara yang sangat tragis seperti ini dan jarring ini untuk bersandiwara saja karena Ayah dengar salah satu warga kita ada yang terlibat dalam hal ini. Aku ikut yah,,, karena aku juga sangat ingin membebaskan desa ini dari mimpi buruk. Ayah tau, kau sangat menyayangi desa ini tapi ayah tidak mau terjadi apa-apa pada mu, kau di rumah saja dengan ibu ayah menyayangi kalian. Baiklah. Tapi mengapa kepala desa kita tidak ikut serta? Katanya beliau akan mengikuti rapat di kecamatan maka kami harus pergi. Ayah hati-hati saja aku percaya pada mu Yah,,,. Ya anak ku ayah pergi. Ketika akan kembali ke rumah, tiba- tiba Siska  melihat kepala desa dengan orang-orang yang mencurigakan. Dengan sigap ia mengikuti langkah sang kepala  desa akan tetapi dengan penuh kewaspadaan. Ia mengikutinya dan sampai di sebuah rumah kosong disana ia mendengar percakapan pak kepala desa. “hari ini kalian jangan melakukan pengeboman karena warga ku telah menyelidiki siapa  yang melakukan pengeboman” siap pak.jawab lelaki berbadan tambun dan berkulit hitam legam itu. Betapa terkejutnya Siska ternyata orang yang seharusnya menjaga desanya tapi malah menghancurkannya. Saking terkejutnya ia menginjak kaleng dan terdengar oleh komplotan pembom ikan. dengan cepat ia berlari dan terus dikejar oleh komplotan kepala desa. Akan tetapi ia berhasil meloloskan diri, sampai di rumah dengan selamat. Keesokan harinya ia kembali kerutinitasnya seperti biasa akan tetapi pikiran tentang semalam terus berkecamuk di benaknya. Tiba-tiba perempuan paruh baya datang menghapirinya ternyata ibunya Vino. “nak, hari ini Vino akan pulang ibu di suruh memberi tahu mu. Benarkah, Vino akan datang? Ya,, nak. Begitu senang hati Siska seakan semua bebannya lenyap karena pria yang sangat dicintainya akan datang. Dengan tidak sabar ia menunggu sore tiba.

 Hal yang dinantinya pun tiba dengan wajah riang ia memeluk kekasih yang dirindukannya begitu hangat dan lama dan Vino membisikan “ aku sudah kembali sayang. Ia, aku senang sekali sembari melepaskan pelukannya. Selama aku pergi hal apa yang telah mengubah desa kita ini mengapa tidak ada keceriaan di wajah mereka?” Siska pun menampakkan wajah yang sangat sedih dan ia menceritakan apa yang telah terjadi. Seperti tersambar petir Vino mendengar berita tersebut dan ia memutuskan untuk meminta bantuan warga untuk menangkap kepala desa yang telah berhianat. Vino dan Siska mendahului ke markas kepala desa dan komplotannya semua warga sudah siap dengan tugasnya masing-masing. Vino berhasil menggiring komplotan itu keluar tempat persembunyian, akan tetapi naas kepala desa mengarah kan peluru kea rah Siska, dengan cepat Vino mendorong Siska dan peluru itu menembus perut Vino. Semua warga terperangah dan langsung meringkus kepala desa. Dengan bersimbah darah Vino memeluk kekasihnya “sayang aku tlah kembali pada mu dan ijinkan aku bersandar di peluk mu untuk sekejap. “Vino, kamu harus bertahan tidak aka nada yang memisahkan kita”. “aku tidak akan pergi dan akan selalu bersama mu”. Setelah mengatakan itu Vino pergi untuk selama-lamanya. Mentari tersenyum dengan cerahnya seakan melupakan kejadian semalam akan tetapi sesosok gadis menatap laut dan tersenyum tertahan.

Iklan

Desember 5, 2011 - Posted by | Cerpen | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: