Journalist Club Sisma

Berdiri, Berlari, Mengejar Informasi

Menulis Naskah Drama


“Kita semua adalah mahkluk kreatif, dan kreatifitas adalah seperti otot yang akan menguat jika kita terus melatihnya.” (Indra Suherjanto).

A. Proses Kreatif

Menulis naskah drama merupakan kegiatan proses kreatif. Kreatifitas menyangkut tahapan pemikiran imajinatif: merasakan, menghayati, menghayalkan, dan menemukan kebenaran. Untuk mendalami proses perjalanan melihat, mendalami, dan mewujud tersebut perlu fase-fase proses dengan pola:

1. Merasakan

Merasakan adalah bagian terpenting dari panca indera manusia. Segala sensasi dalam diri manusia selalu dengan fase merasakan. Merasakan diartikan sudah melewati proses melihat, mendengar, dan menyerap.

2. Menghayati

Menghayati diartikan mendalami atau merasakan betul-betul temuan-temuan yang telah dilakukan pada fase merasakan. Indikator menghayati adalah sampai pada kesadaran pribadi terhadap sensasi yang diperolehnya.

3. Menghayalkan

Menghayalkan adalah fase memunculkan kembali apa yang telah dirasakan, apa yang dihayati dalam wujud khayalan dengan harapan memperoleh hayalan-hayalan lain yang baru.

4. Mengejawantahkan

Mengejawantahkan adalah fase mewujud dari tiga proses sebelumnya. Fase ini perlu menggunakan filter estetik agar curahan-curahan hasil fase sebelumnya lebih bernilai.

5. Memberi Bentuk

Memberi bentuk adalah fase penguatan pengejawantahan dengan proses alamiah, mengalir, dengan menggunakan simbol-simbol dan metafora sehingga keinginan dan angan-angan dapat menjadi sebuah karya.

B. Menciptakan Konflik

Kreatifitas pengarang dalam menulis naskah dapat dilihat dari kemampuan pengarang menciptakan konflik dengan surprise atau kejutan-kejutan, menjalin konflik-konflik tersebut, dan memberikan empati dalam penyelesaian konflik. Konflik biasanya dibangun oleh pertentangan tokoh. Pertentangan karakter, pertentangan visi tokoh, pertetangan pandangan dan ideologi tokoh, lingkingan, nilai-nilai dan sebagainya. Plot atau alur drama ada tiga, yaitu:

1. Sirkuler (cerita berkisar pada satu peristiwa saja),

2. Linear (cerita bergerak secara berurutan dari A-Z),

3. Episodic (jalinan cerita itu terpisah/ terpotong-potong dan kemudian bertemu pada akhir cerita).

C. Menciptakan Tokoh

Kehadiran tokoh/ pelaku dalam sebuah drama menjadi penting. Tokoh atau pelaku akan mejadi penentu gerak alur cerita ( protagonis, antagonis, tritagonis). Tokoh sangat berperan dalam menjelaskan ide atau inti cerita yang dibangun. Kehadiran beberapa tokoh pendukung juga memberi kesan tersendiri dari sebuah naskah drama. Tokoh berperan penting dalam membangun konflik naskah. Bisa jadi tokoh tidak menyelesaikan masalah tersebut. Namun, kekuatan sebuah naskah drama adalah kuatnya karakter yang dibangun oleh penulis dalam mendeskripkan seorang tokoh agas sutradara paham betul membentuk karakter tersebut.

D. Menciptakan Dialog

Apalah arti hadir seorang tokoh tampa sebilah kata. Itulah hal utama yang perlu diperhatikan dalam menampilkan dialog. Dialog yang dibawakan tokoh/ pelaku merupakan salah satu aspek esensial yang ada dalam naskah drama. Bila bentuk dialog disertai dengan lakuan akan lebih memperjelas maknanya. Muatan emosi, konsep, dan perasaan tokoh disampaikan melalui dialog.

E. Menciptakan Simbol

Naskah drama sebagai karya sastra merupakan proses kreatif individu pengarang yang berbicara tentang dirinya yang disajikan secara tidak langsung atau dengan menggunakan symbol-simbol bahasa, gerak, dan bunyi.

F. Menciptakan Naskah Berbobot

1. Menampilkan gagasan baru melalui pemikiran imajinatif.

2. Memiliki konflik dengan surprise (kejutan-kejutan), kaya suspense (ketegangan) sehingga memikat untuk dibaca atau dipentaskan.

3. Menghadirkan tokoh sebagai penentu gerak alur cerita.

4. Memiliki dialog yang bermuatan emosi, konsep, dan perasaan tokoh disertai dengan lakuan.

5. Menggunakan simbol-simbol bahasa, gerak, dan bunyi.

6. Menampilkan problem kehidupan manusia, mengandung aspek moral, dan mengandung nilai-nilai pendidikan.

….Selamat Mencoba…. (http://www.aamovi.wordpress.com)

Iklan

Agustus 6, 2010 - Posted by | Artikel, Jurnalistik | , , , , ,

1 Komentar »

  1. ada ga se perbedaan yg signifikan antara drama dg teater ???

    Komentar oleh ning risty | November 9, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: