Journalist Club Sisma

Berdiri, Berlari, Mengejar Informasi

Saatnya untuk Berani Menulis


Oleh : Syamsuwal Qomar

“Pernahkah terpikir seandainya nenek moyang kita tidak meninggalkan tulisan di candi, di prasasti, di lontar, atau yang lain… betapa susahnya kita menelusuri jejak-jejak sejarah kita.”

(Dr. Jumadi,  pengantar dalam buku Menulis Sangat Mudah karya Ersis Warmansyah Abbas)

Para cerdik cendekia, mereka yang memiliki pikiran terbuka kebanyakannya percaya, menulis adalah sesuatu yang sangat berharga untuk memaknai kondisi atau keadaan yang menimpa mereka.

Helai demi helai lembaran hidup terbuka dan memberi berbagai kesan dalam diri setiap manusia. Kesan- kesan yang kemudian diproses oleh benda yang sangat luar biasa –otak untuk direspon dan dimunculkan kembali melalui dua cara yang berbeda. Berbicara atau menulis.

Seseorang berbicara untuk mengekspresikan emosi, menyatakan cinta, mengemukakan pendapat, membantah argumen dan berbagai hal lainnya. Namun karena omongan kenyataannya lebih sulit dipegang dan mudah untuk berkelit, tulisan dianggap lebih “mulia” dan dipercaya untuk mewakili respon dari perasaan tersebut.

Selain itu, tulisan juga memiliki kekuatan yang lebih “abadi” daripada omongan atau pembicaraan. Karena tulisan tak akan bisa hilang kecuali medium pembawanya musnah. Berbeda dengan pembicaraan yang dapat terhapus dengan cepat oleh waktu, tulisan dapat menjadi bukti sejarah yang lebih tahan lama.

Dengan latar belakang demikianlah, para antropolog dan praktisi pendidikan berkeyakinan kalau penggunaan bahasa tulis telah menjadi cermin dari peradaban suatu bangsa. Semakin giat individu didalamnya mengungkapkan gagasan secara tertulis, semakin tinggi tingkat intelegensi mereka.

Bayangkan jika keyakinan demikian juga terbentuk dalam diri diri kita. Di saat kita mencoba menuliskan apa yang ada di pikiran pertama kalinya, menggoreskan pena diatas kertas maupun memencet tuts keyboard komputer. Kita telah melangkah menuju peradaban yang lebih maju, meninggalkan diri kita dimasa lampau yang lebih terbiasa menggunakan pembicaraan sebagai bagian dari budaya.

Kita telah memutuskan untuk berproses menjadi manusia yang lebih baik. Menjadi makhluk yang mau jujur kepada diri sendiri dan berusaha berbicara kepada nurani. Di saat batin seseorang berbisik pertama kalinya, “aku ingin menulis”, maka hal itu telah membuka kerangkeng atau “kotak korek api” yang membelenggu hati dan pikirannya.

Franz Magnis Suseno, praktisi pendidikan senior bangsa pernah mengatakan, begitu seseorang memutuskan untuk mengawali menulis, itu tak ubah layaknya seperti seseorang yang juga memutuskan pertama kalinya bertempur ke medan laga.

Bagaimana tidak? Ia telah berani menetapkan hati untuk belajar tentang hal yang  tak banyak diketahui sebelumnya. Ia telah siap menghadapi kenyataan kalau hasil karya yang dihasilkan akan jauh dari harapan, dan yang paling mengerikan, berani mengambil resiko seandaikan tulisan pertamanya dikritik atau dikomentari negatif.

Ia telah mendobrak kebiasaan lama dan beranjak menuju hal yang sama sekali baru. Maka seseorang yang telah menghasilkan tulisan pertama tak ubahnya diposisikan seperti seorang pejuang, sementara berbagai penghasut serta penghambat menguntit dirinya. Siap membunuh kepercayaan diri dan kreativitas kapan saja.

Sungguh suatu hal yang begitu membanggakan. Begitu seseorang menuntaskan hal tersebut, ia masih bisa tersenyum meski mereka yang membaca tulisannya punya 1001 kesan. Dari memuji hingga tertawa tergelak-gelak, menggurui, tak ambil peduli hingga tingkatan yang paling kasar, mencaci maki.

Tak peduli apapun yang terjadi, ia telah berhasil menuntaskan “peperangannya” dan memiliki ciptaan sendiri. Membiarkan orang-orang berbicara atau mengkritik tapi tak memiliki pembuktian seperti yang ia miliki.

Ia punya keyakinan untuk diperjuangkan, keyakinan berupa keberanian untuk menulis. Sesuatu yang  memang diharapkan terus ada demi membangun peradaban bangsa yang lebih maju dan membuat sejarah terwarisi. Karena tulisan dapat menjadi referensi karya ilmiah, bahan ajar, acuan diskusi atau bahkan hanya sekedar bacaan biasa yang menandai keberadaan penulisnya.

Bagaimanapun bentuknya, tulisan telah memenuhi kapasitas sebagai jejak sejarah dan mereka yang memutuskan untuk berani menulis, juga telah memutuskan untuk meninggalkan jejak bagi siapapun yang membacanya.

Akhirnya demi menyongsong masa depan lebih baik, tidakkah kita berani untuk menulis? Bersama-sama membangun ideologi baru dan perbaikan diri. Tidakkah kita terpancing untuk berevolusi menjadi manusia pembelajar yang lebih giat, manusia yang akan mewariskan banyak pendapat dan pola pikir melalui tulisan kita.

Disaat orang-orang disekeliling mayoritasnya memilih budaya yang berbeda, kita lebih memilih bungkam tapi berkarya melalui jalan berbeda pula. Jalan yang juga dipercaya oleh para cerdik cendekia sebagai jalan terbaik untuk memaknai segala macam hal yang menimpa diri.

Iklan

Juli 21, 2010 - Posted by | Artikel, Jurnalistik | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: