Journalist Club Sisma

Berdiri, Berlari, Mengejar Informasi

Membacalah, Hidup jadi Indah


Oleh: Ratmi Ningsih

Satu pengalaman saya, ketika penyakit mag kambuh kemudian atas usul teman lalu disuruh untuk mengkonsumsi obat mag yang biasa iklannya tampil di TV. Saking pengennya sembuh waktu itu, hingga tanpa pikir panjang itu obat langsung ”digleg”.

Padahal kata teman saya seharusnya dikunyah dulu sebelum di telan, di bungkusnya ada aturan pakai tapi sayang jangankan membacanya sebelum itu sya meniliknya pun tidak. Akhirnya ya .. tahu sendiri pastilah efeknya beda. Itu bagian terkecil mengapa kita perlu membaca.

Rasanya pada zaman sekarang, sudah mulai langka yang namanya orang tidak mampu baca. Yang banyak adalah orang yang melek huruf tapi malas membaca, dengan berbagai argumen mereka berdalih.

Karena bukan hoby lah, tidak biasalah, sakit mata sampai ada yang bilang kalau membaca pasti kena syndrom ngantuk. Susah memang kalau tidak ada kemauan. Ujung-ujungnya malah berusaha menyusun berbagai alasan ketika diminta untuk membaca, memang siapa yang rugi coba kalau kita tidak membaca.

Kata slogan yang kerap dan sudah sering saya dengar sejak SD, dan saya rasa anda pun sudah mulai bosan untuk mendengar lagi slogan itu. ”Membaca adalah jendela dunia” tapi apa boleh buat memang begitulah resikonya jika kita membaca, tidak lain lagi membaca akan membuka mata kita, menajamkan pendengaran hingga membuat orang yang gagu ngomong jadi lancar.

Membaca akan membimbing kita untuk menjadi diri kita, hidup dengan prinsip sendiri tanpa rela menjadikan diri untuk menjadi followernya orang lain yang belum tentu sesuai dengan kita.

Ironisnya kemalasan untuk membaca ini sudah mewabah kesegala lapisan masyarakat mulai dari yang petani, wiraswastawan, karyawan pabrik, pejabat, guru , pelajar, dosen sampai ke mahasiswa yang aslinya memang  di godok untuk menjadi orang selalu membaca itu idealnya juga ikut- ikutan latah.

Parahnya ketika muncul anggapan bahwa membaca itu adalah kerjaannya orang elit, sangat disayangkan ketika ini telah meracuni sisi keintelektualan masyarakat kita. Padahal kita jelas tahu bahwa membaca bukan saja bisa dilakukan oleh para  profsor, yakin saya pikir membaca itu tidak perlu banyak modal asal tahu huruf serta paham pengejaannya sudah lebih dari cukup, tinggal apa yang di baca.

Masalah apa yang di baca, tidak perlu bungung-bingung baca saja apa yang kita suka, atau apa yang kita perlu untuk diketahui apa susahnya coba. Tidak punya buku, atau mau beli tidak ada uang, itu mah bukan alasan, banyak perpustakaan disekitar kita  atau tinggal bermodal rajin untuk cari pinjaman, selesai perkara ”iya enggak”.

Masalah yang juga kerap menggiring, ketika seseorang sudah punya kemauan untuk membaca, sudah ada buku yang mau dibaca, dan sudah ada waktu untuk membaca. Yaitu permasalahan internal dan eksternal yang ada dalam diri si calon pembaca sendiri.

Permasalahan internal pembaca yang bisa menghambat tercapainya target membaca yang efektif adalah ketika si pembaca tidak punya persepsi baik pada buku yang akan dibaca, dengan kata lain yang si pembaca tidak punya ketertarikan pada buku yang dia akan baca. Bisa anda bayangkan saat ketertarikan itu tidak ada, dalam masalah apapun  pastilah target tidak bakal mulus untuk dicapai.

Jangankan dalam membaca, masalah makanan saja kalau tidak tertarik dengan makanannya, piring di meja akhirnya hanya akan jadi pajangan. Apalagi membaca  yang jelas perlu berpikir jika ingin melakoninya.

Masalah persepsi dan ketertarikan pada membaca, bisa anda lawan dengan mudah jika anda punya kemauan untuk melawannya. Kunci utamanya memang pada perasaan anda sendiri, anda yang memahaminya bagaimana caranya agar anda bisa senang dan tertarik dengannya.

Bisa jadi ada masalah lain yang lupa untuk dirunut, menjadi sumber utama ketidak tertarikan anda untuk membaca. Misalnya saja karena anda merasa tidak memerlukan informasi yang ada dalam buku itu, atau anda tidak tahu tujuan anda untuk membaca. Kita pahami bahwa untuk membaca, tiap orang punya motif beda-beda, terserahlah anda ingin motif apa, yang jelas asal ada tujuan. Hingga ketika membaca kita memang benar-benar berarah.

Yang pasti tujuan membaca punya posisi penting, dalam strategi membaca efektif. Tidak adanya tujuan dalam membaca, sama saja dengan bohong. Memang percuma jika anda membaca tanpa tujuan, sama artinya aktivitas anda membaca seperti membuang waktu untuk memelototi buku didepan anda tanpa tahu hasilnya. Karena yang paling minimal ketika membaca adalah bertujuan untuk tahu, tahu apa isi dari buku yang kita baca. Jika ada tujuan lebih minimal dari itu, artinya bullsyit.

Satu tips ringan  jika anda ingin sukses dalam membaca adalah perhatikan dengan baik buku yang anda baca, tidak ada salahnya anda mencoba untuk meneliti dengan cermat sebelum membaca siapa penulis dari buku yang akan anda baca, dari riwayat hidupnya, latar belakag mengapa dia menulis buku itu. Atau yang lainnya, siapa tahu dengan mengenal penulisnya anda merasa lebih akrab dengan buku yang akan anda baca. Yang pasti ini tidak lepas dari dalam rangka membentuk perasaan senag anda terhadap buku yang akan dibaca.

Hal lain yang juga bisa membuat semangat anda makin menggebu dalam membaca adalah anda merasa perlu dengan isi dari buku dan keinginan anda untuk menyampaikannya dengan orang lain.

Ya tidak masalah ah setelah selesai membaca anda presentasi sepuluh lima belas menit pada orang terdekat yang ada disekitar, karena selain akan memicu ingatan anda agar lebih kuat juga orang lain mendapatkan info secara tidak langsung dari anda, yang tidak kalah untung buat anda adalah ini satu tantangan untuk mengatur kata sendiri dan membiasa diri memahami tehnik meyampaikan yang efektif.

Atau jika masih belum siap untuk menyampaikan pada orang lain, tidak masalah anda bisa saja menggunakan cara yang lain. Dengan menuliskannya kembali misalnya, tetapi harus dengan redaksi sendiri.

Karena redaksi yang sama berarti anda menulis dengan modal menghapal, dan ini menyempitkan kemampuan anda untuk berkreatifitas. Kalau dibandingkanpun efek pada ingatan akan lebih berbekas jika anda berusaha menuliskannya dengan mengeksplor kamus kata diotak anda.

Masalah eksternal yang bisa menghambat kesuksesan membaca anda adalah kondisi tempat dan waktu membaca yang tidak tepat. Walau tidak semua orang bisa terpengaruh dengan tempat yang tidak nyaman, namun bukan berarti harus terlupakan. Tempat yang nyaman untuk membaca itu relatif, pandangn orang berbeda-beda tentang ini.

Bisa jadi seseorang merasa nyaman membaca di tempat manapun, namun adapula yang senang membaca dengan iringan musik melankolis. Ya suka-suka andalah. Yang jelas anda merasa nyaman dengan itu, jangan sampai pusing hanya karena memaksa diri membaca ditempat yang tidak cocok.

Kalau pengalaman saya dengan tempat membaca yang nyaman, dimana pun dengan syarat disana tidak ada teman ngobrol karena walaupun saya tidak terlalu tertarik dengan obrolan orang disamping tapi tetap saja di ngomong disamping, syarat yang kedua tidak ada pemandangan yang meminta untuk dilihat seperti didepan televisi misalnya, atau di karidor kampus dimana orang berbagai jenis berseleweran.

Masalah waktu, kita bisa gunakan waktu yang efektip untuk itu. Juga untuk masalah ini kita sendiri yang paham kapan waktunya. Pastinya bukan menjelang tidur karena kalau pada waktu itu bisa jadi anda berubah pikiran, lebih tertarik pada bantal ketimbang pada buku.

Atau pada saat anda lapar dan lelah, kalau memang tidak mampu sebisa mungkin crai waktu lain karena jika anda pakasa bisa jadi akan menghilangkan minat anda untuk membaca lebih lanjut jika tidak selesai sekali duduk.

Menjadikan membaca  tidak hanya sekedar kebiasaan, tapi lebih dari itu seharusnya  kita membaca karena kita merasa bahwa itu adalah keperluan. Toh jika kita membaca bukan orang lain yang untung, kita sendiri yang akan terasah kemampuan, wawasan, intelektualitas yang makin tajam dan bisa jadi karena membaca anada akan menjadi rujukan pertanyaan orang disekitar anda. Semoga saja kita bisa membentuk diri kita dan orang lain dengan membaca.

Juli 21, 2010 - Posted by | Artikel, Jurnalistik | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: