Journalist Club Sisma

Berdiri, Berlari, Mengejar Informasi

Mimpi Besar Mang Didi


Subuh itu hujan rintik-rintik, udara menjadi begitu dingin. Tetapi Suryadi atau biasa dipanggil Mang Didi (50) tidak bisa berleha-leha bersembunyi di balik selimut hangat seperti umumnya kebiasaan orang lain di saat subuh. Dalam balutan kaos kumal tipisnya dia sudah mengayuh becaknya mengantar anaknya dari rumahnya di kawasan Guntur, Kelurahan Paminggir, Garut.

Pandangannya lurus ke depan menembus temaram cahaya subuh. Sesekali dia melirik anaknya yang memakai seragam sekolah dengan senyum di bibir keringnya. Di matanya, si anak terlihat begitu gagah dengan seragam sekolahnya, seragam yang tidak pernah dimiliki Mang Didi saat dia sekolah di kampungnya yang terhenti di kelas 3 SD karena belitan kemiskinan.

Jauh sebelum sekolahnya terhenti, Mang Didi sudah akrab dengan kehidupan melarat. Ayahnya hanya seorang petani gurem, petani kecil dengan kepemilikan lahan pertanian yang kecil dan sumber daya lainnya yang terbatas. Lahir sebagai anak ke-5 dari 6 bersaudara, dia terbiasa hidup penuh kekurangan.

Keadaan makin sulit ketika ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi. Ibu tirinya melahirkan beberapa anak lagi. Semakin banyak mulut yang harus diberi makan, Didi kecil terlantar dan menderita kurang gizi. Badannya tidak berkembang dengan baik.

Saat ayahnya meninggal, dia hanya mendapat sedikit tanah warisan yang hasilnya tidak pernah bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Tanah sempit itu berupa sawah tadah hujan yang hanya bisa ditanami setahun sekali.

Ketika mengelola tanahnya, Mang Didi tidak mengetahui film Al Gore yang berjudul An Incovenient Truth tentang global warming. Dia hanya menghadapi kenyataan bahwa waktu musim kemarau dan musim hujan menjadi tidak jelas. Saat hujan mulai turun membasahi tanahnya yang kering, dia mulai menebar benih. Sayangnya hujan tidak turun lagi, Mang Didi merugi karena lahan persemaiannya mengering. Di lain waktu ketika dia menunggu tibanya musim panen, hujan turun deras dan tanaman padinya terendam banjir.

Putus asa dengan kondisi di kampungnya yang tidak menawarkan kehidupan yang layak, Mang Didi mengikuti kerabatnya di Bandung yang mempunyai bisnis katering. Dia juga menjajakan es mambo. Bisnis kerabatnya bangkrut, maka dia kembali ke kota kelahirannya untuk mengais rejeki.

Tanpa bekal pendidikan yang memadai dan tanpa modal uang, lapangan kerja yang bisa dimasukinya hanya pekerjaan kasar yang mengandalkan tenaga dengan upah kecil. Seperti juga kakak-kakaknya, dia memilih profesi tukang becak dengan terpaksa.

Sebagai penarik becak, dia bisa tersenyum di bulan puasa. Banyak yang memberikan zakat harta dan zakat fitrah. Becaknya pun laris dipakai orang yang berbelanja untuk lebaran. Tetapi, jika kehidupan seperti roda becaknya yang berputar naik turun, maka nasib Mang Didi seperti roda yang banyak berputar di bagian bawah, menyisakan lebih banyak duka dibanding rasa suka.

Ketika kota besar memberlakukan daerah bebas becak, maka kota kecil tempat Mang Didi mencari nafkah dibanjiri becak. Ditambah dengan urbanisasi dari orang-orang seperti dia yang di desanya tidak bisa hidup dan berburu kehidupan di kota, maka Mang Didi menghadapi banyak pesaing sesama tukang becak. Akibatnya jumlah uang yang bisa dibawa ke rumahnya semakin lama semakin mengecil.

Akibat lainnya, dia juga sering kena marah juragan becak yang memiliki becak yang disewanya karena setoran sering tidak cukup. Ati (40), istri Mang Didi membantu dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga selain menjadi buruh cuci. Akhirnya mereka memiliki becak sendiri, tetapi duka lain menghampiri. Satu demi satu bagian dari becaknya dicuri walaupun Mang Didi mengikatkan becaknya memakai rantai dengan becak teman-temannya.

Ketika jalan satu arah diberlakukan, Mang Didi yang semakin tua bersama tukang becak lainnya melawan arus untuk menghemat tenaga daripada jalan memutar. Akibatnya dia dikejar-kejar dan harus berhadapan dengan petugas satuan polisi pamong praja (satpol PP). Becaknya ditahan dan dia harus pontang-panting mencari pinjaman untuk menebus becaknya.

Duka lainnya muncul ketika angkutan umum (angkot) yang menawarkan ongkos lebih murah dan waktu lebih cepat semakin banyak di jalanan. Nasib Mang Didi semakin mengenaskan, dia semakin sulit mencari penumpang. Kadang-kadang dalam sehari dia hanya mampu mengumpulkan uang sebesar Rp 5000, padahal minyak tanah yang harus dibelinya naik, dari Rp 3000 menjadi Rp 7000. Harga beras dan kebutuhan lainnya juga tidak pernah turun, semua semakin mahal.

Satu saat ketika dia semakin terjepit kemiskinan, anak perempuannya yang lulus SD tidak bisa dia sekolahkan lagi. Di usianya yang ke-14, anaknya dia nikahkan untuk mengurangi beban hidupnya. Malang, menantunya di-PHK. Akhirnya Mang Didi mendapat beban tambahan, menanggung biaya hidup istri, anak-anak, menantu dan cucunya.

Semangatnya naik kembali ketika menyadari prestasi akademis anak laki-lakinya yang bagus. Berbeda dengan sepupu-sepupunya yang berstastus sama sebagai anak tukang becak yang malas belajar dan rajin bermain, Wahyu rajin ke sekolah. Mang Didi juga berbeda dengan kakak-kakaknya yang hanya puas dengan menjadi penarik becak saja.  Dia rajin mencari pekerjaan lain.

Selain menjadi tukang becak, dia menawarkan tenaganya ke para ibu dan bapak di sekitar dia mangkal. Dia membantu orang membersihkan rumput, mengangkat air galon, tabung gas, memperbaiki genteng yang pecah, dan pekerjaan lainnya sebagai kuli serabutan.

Berapa pun yang diterimanya, dia selalu tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Orang-orang pun senang dibantu Mang Didi karena dia jujur, kemiskinan tidak membuatnya gelap mata mengambil yang bukan haknya.

Di tengah keterbatasannya, Mang Didi juga cukup dermawan. Dia membantu sesama tidak dengan uangnya tapi dengan tenaganya. Ada janda tua tukang bubur yang tiap pagi selalu dia bantu dengan mengangkat dagangannya dari rumahnya ke gerobak pinggir jalan tanpa diminta imbalan. Dia juga rajin membantu mengangkat kotak jualan dan membimbing kakek tua penjual rokok eceran di tempat dia biasa mangkal.

Mata di wajah yang keriput dan menghitam karena terbakar matahari itu selalu berbinar-binar saat menceritakan kecerdasan anaknya dan mimpi besarnya sebagai seorang ayah. Dia yakin bahwa jika anaknya mempunyai pendidikan yang lebih tinggi, nasibnya tidak akan berakhir di sadel becak seperti dirinya. Walaupun Mang Didi tidak menonton acara Save Our Nation di Metro TV yang narasumbernya menyatakan bahwa 60-70 % tenaga kerja di Indonesia termasuk kelompok tidak berpendidikan dan tidak mempunyai keterampilan memadai, dia yakin pendidikan akan memperbaiki status ekonomi dan sosial seseorang.

Pagi itu jalanan tampak berselimut kabut. Namun seperti subuh-subuh yang lain, Mang Didi masih tetap setia memutarkan pedal becaknya untuk mengantar anaknya berangkat sekolah. Dari sorot matanya terbersit harapan besar yang digantungkan pada Wahyu, anaknya yang terbilang cerdas. Dia menginginkan anaknya menjadi sarjana, minimal lulus SMA. Itu sebabnya rutinitas tiap subuh ke sekolah untuk menggapai harapan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan walaupun rasa dingin kerap membuat tubuh bapak dan anak itu menggigil.  (*)

Penulis : Peserta Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH) Angkatan II
Sumber Foto : http://www.virtual.co.id

Iklan

Mei 31, 2010 - Posted by | Profil | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: