Journalist Club Sisma

Berdiri, Berlari, Mengejar Informasi

Metamorfosa Sastra Hingga Menggugah dan Mengubah


Tidak satu pun di antara mereka akan langgeng. Yang langgeng adalah mereka yang menulis hanya karena jika tidak melakukannya mereka seakan-akan meledak.”
(Anthony de Mello)

Apabila sastra diibaratkan dengan pesawat, maka penulis adalah pilotnya dan pembaca adalah penumpangnya. Akan dibawa ke mana pesawat?  Ini bergantung kehendak sang pilot. Ia bertanggung jawab penuh atas keselamatan para penumpang hingga burung besi tersebut landing di landasan. Berangkat dari ilustrasi singkat itu, ‘pesawat sastra’ memiliki tanggung jawab moral untuk mencerahkan kehidupan bangsanya. “A drop of ink can move billion peoples to think”–kata idiom lama, sementara Subcomandante Marcos, Pemimpin geriliawan Zapatista berujar, “nuestra palabra es nuestra arma”  yang artinya adalah kata adalah senjata.

Lebih dari Segurat Kata

Sebagaimana diungkapkan Horace, sastra berfungsi sebagai Dulce et utile, yaitu penghibur sekaligus berguna. Dua ‘hulu ledak’ ini, sejak awal harus disadari dengan jernih oleh para penulis sebelum berkarya. Karena efek ledakannya bukan hanya bersifat insidental tapi multidimensional.

Menghibur bukan berarti latah ikut-ikutan trend, Terjebak dalam perangkap kapitalisme penerbitan yang membabi-buta memenuhi selera pasar tapi tidak menghiraukan ekses negatifnya. Bila hal tersebut menjadi prioritas utama, maka yang muncul kemudian adalah buku-buku dangkal filosofis, kering pesan moral dan meaningless kecuali hanya untuk memuaskan selera sesaat. Penulis Montgomery Belgion menyebutnya sebagai irresponsible propagandist (propagandis tidak bertanggung jawab), karena disadari atau tidak tulisan seperti halnya cat dan kuas dapat memulas ‘kanvas’ para pembaca dengan ide-ide yang dikandungnya.

Hal tersebut dikuatkan dengan realita generasi muda kita yang miskin militansi, kering idealisme dan buta nilai-nilai. Budaya hedon telah menyulap mereka menjadi konsumen sampah kebudayaan barat yang rakus. Kebebasan tanpa kontrol telah menghilangkan jati diri ketimuran.  Moralitas tidak lagi menjadi rambu dalam hubungan antar manusia dan norma-norma tak risih lagi untuk dilanggar. Hal ini terefleksi dari gaya hidup bermewah-mewah anak muda kita dalam novel, cerpen, esai yang sangat kontras dengan nasib tiga puluh dua juta rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Suatu preseden buruk bagi hubungan kelas sosial antar kaya miskin, kuat lemah, kuasa tak berkuasa. Edy Firmansyah, Esais sekaligus pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK) Jakarta mengatakan, “Mencipta karya sastra yang melangit dan eksklusif secara tak langsung berarti memaksa masyarakat alpa terhadap perubahan.”

Menyikapi hal tersebut dibutuhkan fungsi kedua, yaitu ‘dapat berguna’ terlepas dari genre masing masing penulis.  Dibutuhkan karya-karya yang berani melawan mainstream. Pesan moral, kemanusiaan, sosial dan pendidikan dapat diusung menjadi tema utama sebagai bentuk refleksi masyarakat kita yang sebenarnya. Karya monumental seperti tetralogi laskar pelangi karya Andrea Hirata, Ayat-Ayat Cinta karya Habiburahman Al Shirazy atau Manusia-Manusia Langit karya Helvy Tiana Rosa bisa dijadikan acuan. Kendati semula dianggap aneh, tidak populer dan asing tapi kemudian karya-karya tersebut dapat merajai bursa buku nasional. Pembaca pun mendapat nilai plus menuju arah yang lebih positif atas apa yang telah mereka deras dan telaah. Buku cerdas niscaya dapat mencerdaskan dan seperti dikatakan oleh aktifis kemanusiaan Chico mendez, perubahan terstruktur hanya tinggal menunggu waktu.

Semangat itulah yang dirasa sangat relevan guna menghadapi realita saat ini dan masa datang. Ke depan, mendirikan penerbit independen yang dapat menampung karya-karya para penulis idealis wajib hukumnya. Hal ini telah dibuktikan oleh resist book yang berani beda dengan meluncurkan buku-buku bertema perlawanan. Sokongan dana dari penulis mapan, sponsor dan pihak-pihak yang peduli terhadap perubahan harus digalang. Dengan demikian, dari penerbitan tersebut dapat muncul sejumlah karya yang dapat meredusi terbitan yang sifatnya merusak. Selain itu membuka jalan pula bagi para penulis berbakat pemula yang selama ini tidak mendapat kesempatan mengorbitkan naskah mereka karena terisisih oleh sistem.

Save to Landing

Perubaham bukan cuma mimpi bila ada sinergi dari semua kalangan. ‘Pesawat sastra’ yang kelak akan landing di lintasan pun dipastikan dapat membawa para penumpangnya dengan selamat. Landasan yang dimaksud adalah terbentuknya suatu pemahaman global bahwa tiap manusia menjalankan fungsi-fungsi sosial untuk manusia dan lingkungannnya. Melalui sastra kita menjadi peka terhadap realita kemudian tergerak untuk melakukan perbahan.

“I have a dream,” kata Martin Luther King, daripada meributkan rute penerbangan yang dipastikan sangat panjang, lebih baik kita mengencangkan sabuk pengaman, mengatur kemudi di lintasan dan mulai membawa pesawat sastra kita pada jalurnya yang benar. Entah sampai kapan ia melayang-layang di udara dalam mencari landasannya, yang paling penting adalah para penulis (termasuk kita barangkali), sebagai pilot telah membuka jalan menuju landasan itu. Tabik! (*) ( http://www.kabarindonesia.com )

Iklan

Mei 31, 2010 - Posted by | Artikel, Jurnalistik | , , , ,

1 Komentar »

  1. like … pelajaran yang luar biasa.. seharusnya memang seperti ini blog dimanfaatkan .. bukannya untuk menyebarluaskan sesuatu yang tidak patut disebar luaskan .. 😀

    Komentar oleh dwiky | Juni 11, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: